Senin, 10 Desember 2012

Sepenggal Kehidupan Raja di Taman Sari..

Melanjutkan liputan sebelumnya tentang candi Prambanan (http://thekarmis.blogspot.com/2012/11/hampir-senja-di-candi-prambanan.html), The Karmis and family melanjutkan jalan-jalan hari berikutnya ke Taman Sari, situs bersejarah peninggalan raja-raja kraton Jogjakarta. Sebelum memulai aktifitas, isi perut dulu alias sarapan. Pilihan jatuh di lesehan alun-alun Jogyakarta. Meskipun hanya warung tenda biasa, tapi warung ini ramai dikunjungi orang-orang yang mau sarapan. Menu pilihannya lontong opor, nasi uduk dan bubur ayam. Ditemani teh manis anget, rasanya pas sekali sarapan kami. Apalagi harga nya cukup bersahabat di kantong :)
 Selesai sarapan, sambil meluruskan kaki dan menikmati limpahan sinar matahari pagi, kami berjalan kaki sejenak ke tengah alun-alun. Tepat di tengah alun-alun berdiri kokoh 2 pohon beringin besar. Banyak orang yang mencoba melewati kedua beringin tersebut dengan mata tertutup, yang konon tidak sembarang orang bisa melewatinya.
Tujuan selanjutnya adalah Tamansari. Hari masih pagi saat kami tiba disana. Pukul 8 pagi. Namun suasana sudah ramai. Beberapa keluarga nampak sudah mendahului kami. Harga tiket masuk sangat murah, kalo tidak salah 3k per orang. Ada bapak-bapak pemandu wisata yang menemani kami selama perjalanan menyusuri taman sari. Pemandu ini tidak masuk di harga tiket, jadi kita harus memberi fee kepadanya di akhir kunjungan. Beruntung, pemandu wisata kami kali ini cukup bersahabat.



Memasuki area Taman Sari kita akan disambut oleh suatu gapura yang kokoh, dan jalanan rumput yang asri. Di ujung jalanan rumput tersebut ada lengkung dan anak tangga turun ke areal pemandian yang dulunya digunakan oleh selir selir raja. Terdapat dua kolam yang dihubungkan dengan terowongan melengkung di antara 2 kolam. Sayang saat kami datang, kondisi kolam sedang kosong airnya. Di ujung salah satu kolam, terdapat menara. Konon pada masa raja-raja Hamengkubuwono terdahulu, raja memilih selir yang akan menemaninya dengan cara melemparkan bunga dari atas menara ke arah selir-selir yang sedang mandi di dua kolam tersebut. Kalau tidak salah ingat ada 40 selir yang dimiliki raja jaman dahulu (wow). Apabila tidak ada yang mendapatkan bunga tersebut maka selir-selir akan bertukar tempat melalui terowongan yang memisahkan dua kolam tersebut dan raja akan mengulang ritual melempar bunga sampai mendapatkan pasangannya.


Dua kolam tersebut kemudian terhubung juga dengan kolam khusus untuk raja dan selir yang dipilihnya. Biasanya ritual romantis sejoli tersebut dilanjutkan dengan semacam "spa".  Selanjutnya, sudah tertebak episode apa selanjutnya (ehm). Pemandu wisata kami bahkan bergurau, jangan bayangkan raja selalu berpakaian gagah seperti di gambar-gambar. Bahkan mungkin raja setiap hari harus memakai sarung, tidak sempat berpakaian :)

Kami juga berkesempatan melihat-lihat peraduan raja.  Sayangnya peraduan itu tampak sangat sederhana, hanya berplester semen saja. Ternyata gempa yang sempat menggunjang Jogya juga meluluhlanakkan sebagian bagunan Taman Sari. Termasuk yang mengalami kerusakan adalah peraduan raja, selir-selir serta anak raja. Sangat disayangkan..


Kami berkesempatan juga melihat-lihat perkampungan para abdi dalem istana. Seperti  sering dikabarkan, abdi dalem ini mendapatkan gaji yang sangat sedikit dari istana. Hanya puluhan ribu sebulan. Oleh karenanya mereka banyak yang memiliki sampingan membuat dan menjual barang-barang seni kepada pelancong yang datang ke istana.



Sebagai penutup kunjungan singkat, kami menghabiskan waktu bersimbah mentari pagi di pelataran Taman Sari sambil mengabadikan beberapa kenangan.

 Tidak ketinggalan, Mr dan Mrs Karmi berpose layaknya pre wedding session di tangga-tangga Taman Sari.

 Overall, menyenangkan sekali bisa berkeliling Taman Sari. Mempelajari sepenggal kisah kehidupan raja tempo dulu. Semoga situs Taman Sari ini bisa lebih diperbaiki lagi sehingga lebih bisa menaik wisatawan untuk datang. Semoga..


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar