Jumat, 07 Agustus 2015

A$5 dan harga psikologis paket makanan di Canberra..

WARNING tulisan ini tidak terbukti secara ilmiah, dan hanya pemikiran iseng yang tidak perlu dibuktikan kebenarannya, pun dipertanggungjawabkan pada siapapun :) 


Penentuan harga, dalam bisnis apapun, merupakan hal krusial. Secara sederhana, rumus penentuan harga jual adalah harga pokok penjualan, alias semua biaya yang dibutuhkan untuk membuat suatu barang hingga siap dipasarkan, ditambah dengan margin keuntungan yang diinginkan.
Namun, kenyataan tidak seindah rumus di atas. Pricing menentukan apakah produk akan terserap pasar atau tidak, dan pada gilirannya akan menentukan apakah bisnis akan terus berputar atau malah berhenti total.

Adalah keingintahuan Mrs Karmi, tentang bagaimana potensi jualan makanan Indonesia di Canberra, dan kalau memang ada potensi, berapa harga makanan, yang secara psikologis diterima pasar yang notabene mahasiswa, dan secara ekonomis menguntungkan penjualnyya

Untuk menjawab pertanyaan itu secara pasti, metode paling tepat, mungkin melakukan survei kepada calon pebisnis masakan Indonesia dan kepada calon konsumennya. Kalau ada yang mau membiayai sih riset ini, Mrs Karmi mau sih hahaha. Tapi karena nggak ada, mari kita mencoba berhipotesa.
  1. Warga Indonesia tetap merindukan masakan Indonesia. Ini tidak perlu diragukan lagi. Citarasa masakan Indonesia yang khas tetap paling sesuai dengan lidah Indonesia. Boleh lah kita sesekali makan burger, pizza, nasi lemak, nasi briyani, pho vietnam, kari India, tapi dalam keseharian yang memuaskan lidah dan perut Indonesian ya tetap rendang, gulai, asam pedas, sambel terasi, tempe mendoan dan jangan lupa Indomie :)
  2. Ada kelompok Indonesian yang memang memiliki keluangan waktu dan keahlian, atau memang hobby memasak. Sehingga, dahaga masakan Indonesia bisa dipenuhi dari dapur sendiri. Tapi seberapa besar porsi itu? Saya rasa tidak banyak. Minimal bagi mahasiswa seperti saya, yang waktu sebagian besar terserap untuk kuliah, belajar, mengerjakan assignment dan lain lain. Memasak sendiri harus dibayar dengan mahal, bukan dalam nominal uang, tapi dalam hal opportunity cost, berupa waktu yang bisa dimanfaatkan dalam hal lain. Dan secara kalkulasi sendiri, memasak tidak selalu berarti lebih hemat secara keuangan.
In short, potensi jualan masakan Indonesia di Canberra cukup besar, karena default lidah Indonesia dan kemalasan mahasiswa (seperti saya) untuk memasak. 

Pertanyaan berikutnya, kalau mau jualan, berapa harus memasang harga

Jawaban saya, bisa jadi A$5 

Wah pede amat!

Ya, kan hanya hipotesa, bisa jadi A$5, bisa jadi bukan

Sebenarnya jawaban saya itu didasarkan pada pengalaman mengamati sendiri teman dekat (Dapur Keysa) yang  baru membuka usaha makanan di Canberra. Urusan rasa nggak usah ditanya deh. Enak banget.
Setelah trial penawaran beberapa menu awal, booming penjualan terjadi saat Dapur Keysa mengeluarkan menu serba $5, seperti mie ayam bakso, krecek dll. Sekali iklan di media sosial, pesanan mengalir. Bahkan ada yang satu orang memesan beberapa porsi.

A$5 Mie Ayam Bakso Dapur Keysa

Fenomena yang menarik. Apakah A$5 adalah harga psikologis yang secara abstrak diterima warga (terutama mahasiswa), given anggaran belanja personal mereka?

Selain Dapur Keysa, fenomena keberhasilan mahasiswa yang jualan makanan di Canberra adalah Patin Asam Pedas, yang saat diposting pre order di media sosial, pasar langsung berebutan memesan. Beberapa kecewa karena kuota sudah penuh. Saya termasuk yang selalu menunggu iklan setiap Minggu malam, demi mendapatkan paket ikan pada Rabu siang. Saya perhatikan per orang bisa memesan lebih dari satu paket. Seperti saya, yang pesan 2 paket setiap minggu.

Berapakah harganya? Ternyata A$4 saja.

A$4 Salmon Asam Pedas Mas Tri (Bursa Update)


Kisaran harga A$5 secara tidak langsung terbentuk, terasosiasi pada beberapa makanan yang ditawarkan pada kisaran harga tersebut. Mahasiswa ANU pasti sudah tidak asing lagi dengan Asian Bistro yang Sale paket nasi, sayur dan lauk setelah jam 15.30. Harga sale nasi box hanya $4,5. Dijamin kenyang, dan dipastikan bisa sekalian silaturahmi dengan mahasiswa Indonesia lain yang juga sedang menikmati diskonan.

Yang juga menjual makanan seharga A$5 adalah Paket Value nya Domino Pizza. Hanya dengan membayar A$ 5, kita akan mendapatkan pizza satu loyang (8 potong) fresh from the kitchen, dengan toping yang lumayan (Americano, Cheese, Beef dll). Bagi perut Asia, satu loyang itu bisa dimakan berdua, atau di split menjadi minimal dua kali konsumsi sendiri.

Hence,

Boleh jadi pasar menerima harga A$5 sebagai harga yang sesuai, setelah membandingkan dengan barang substitusi sejenis yang ditawarkan pasar.
Boleh jadi, paket makanan dengan harga A$5 memberikan "kepuasan" yang maksimal bagi pasar, dengan batasan budget yang dimiliki

Tapi boleh jadi saya salah.

Selamat berakhir pekan rekan!

Saya mau menikmati dulu paket krecek dari Dapur Keysa yang saya beli hari ini, dengan harga A$5 saja!
A$5 Krecek plus Opor Telur dan Ayam Dapur Keysa




Senin, 03 Agustus 2015

Freakshakes Patissez: Mencicipi Minuman yang Lagi Hits di Canberra

Canberra, ibukota Australia, adalah kota yang tidak terlalu besar, dengan keteraturan yang luar biasa. Canberra cenderung tidak "meriah", kalau tidak boleh dibilang membosankan (Beberapa teman menggunakan kosakata Canboring, untuk menggambarkan betapa membosankannya kota ini). Namun tetiba, dalam sebulan terakhir, Canberra menjadi tenar. Apa pasal? Karena minuman bertajuk Freakshakes yang dijual oleh kedai kecil bernama Patissez di kawasan Manuka. Freakshakes menyebar secara viral di media sosial, mengundang semakin banyak orang penasaran untuk mencoba. Promosi didukung juga oleh beberapa media nasional Australia seperti Canberratimes. Bahkan ABC net mendapuk Canberra bukan lagi boring city karena minuman ini. Wah!

Atensi besar dan kedai Patissez yang kecil, berimbas pada antrian yang menggila. Di akhir pekan, harus bersiap untuk mengantri minimal 3 jam hanya untuk bisa take away minuman ini. Apalagi untuk mendapatkan meja. Silahkan bersabar lebih lama :)

Apakah lama nya antrian menyurutkan minat orang datang? Tentu tidak. Seakan semua ingin mencicipi manisnya freakshakes at all cost -time and money-. Termasuk Mrs Karmi. Strateginya adalah datang pada hari kerja dan pagi hari sebelum jam makan siang. Kebetulan karena senin free dari jadwal kelas, meluncurlah kami bertiga ke Patissez. Untuk lokasi Patissez dapat dilihat disini

Ternyata pilihan kami tidak sepenuhnya tepat. Ketika kami tiba di Patissez pada Senin pagi jam 10 tepat, kami ternyata tetap harus menunggu selama 1.5 jam. Doeng!
Sistem antrian yang diterapkan Patissez sangat baik. Ada satu pelayan di depan yang mendaftar antrian sekaligus mencatat no telp. Ketika meja kita sudah tersedia, kita akan ditelp.


membaca buku sembari menunggu
di depan Patissez

Apa yang dilakukan selama menunggu? Apa saja. Di sekitar Patissez banyak kedai kopi yang bisa dimanfaatkan untuk duduk santai (Betapa paradox, kita mengantri minuman, dengan membeli minuman yang lain :) ). Atau bisa memanfaatkan dengan berbelanja pakaian di Manukashops atau bahkan groceries. Mrs Karmis dan dua orang teman (mbak Riris dan mbak Eva) beruntung menemukan bookshop yang sangat nyaman dan hangat. Bahkan bookshop menyediakan bangku yang nyaman, diiringi musik yang enak. Duh bikin betah. Masa menunggu selama 1.5 jam terelewati juga.


Bahagia tidak terkira ketika akhirnya mendapatkan meja. Freakshakes punya empat varians yaitu Muddy Pat,  French Vanilla, Salty Nutz, dan Nutella Salted Pretzel. Kami bertiga memesan minuman yang sama, yaitu Nutella Salted Pretzel, simply karena kami suka Nutella, dan secara fisik lebih tidak se -menyeramkan ketiga lainnya. Waktu yang dibutuhkan dari order sampai minuman siap cukup lama juga sekitar 30 menit! Duh!

Patissez juga menawarkan kue-kue yanglezat, bahkan menu brunch seperti burger, toast, pancake dll. Sambil menunggu, kami order salted popcorn cake, yang agak ada asin-asin nya.


Finally, here is the freakshake we ordered. Cantik sekaligus menyeramkan, karena full of fat. Saatnya mencoba. Wow enaaaak. Perpaduan Nutella yang sudah pasti enak, dengan susu, cream ngeblend dan terasa enak. Untuk menandingi manisnya minuman, pretzel yang agak asin disajikan di atas shake. Pas! rasanya. Yang tidak pas mungkin porsinya yang terlalu besar untuk perut Asia kami yang kecil. Ada baiknya yang mau mencoba, lebih baik sharing dengan teman, daripada tidak habis.

The Nutella Salted Pretzel

Sebelum ludes di minum
Overall, freakshakes dari Patissez ini layak dicoba karena memang enak. Asal siap menunggu saja. Worth the wait kok! Selamat mencoba!

**
All varians freakshakes @ $11.5
Salted Popcorn Cake @$10
**



Senin, 13 Juli 2015

Wisata di Kota Padang: Sore di Taplaw dan Mercure Hotel Padang

Dalam setiap perjalanan, perencaan  wajib dilakukan, namun harus tetap fleksibel manakala kondisi di lapangan tidak sesuai dengan rencana. Apalagi bepergian saat lebaran, dimana kondisi lalu lintas tidak bisa dipastikan.

Sedianya, di kota Padang, The Karmis dan rombongan akan mengunjungi beberapa pantai, antara lain           Pantai Carocok dan Pantai Air Manis. Namun kemacetan parah terjadi dalam perjalanan menuju pantai tersebut. Setelah hampir satu jam terjebak kemacetan tanpa bisa bergerak signifikan, akhirnya kami putar balik dan kembali ke kota Padang. Tak mengapa lah, bisa kembali hari-hari lain. Toh Sumatera Barat sudah menjadi kampung halaman The Karmis, suatu saat bisa balik lagi. Sebenarnya di kota Padang ada beberapa museum yang bisa dikunjungi, cuma saat itu kami sedang tidak in mood mengunjungi museum, jadi tidak ada yang setuju untuk merubah destinasi ke museum.

Sisa sore kami habiskan dengan duduk-duduk menikmati angin sore di Tepi Laut (Taplaw). Ada banyak tenda-tenda terpal kaki lima yang didirikan sepanjanh Taplaw. Kawasan ini adalah tempat hangout nya penduduk kota Padang, terutama anak muda dan anak-anak.Tidak heran kalau kemacetan terjadi di beberapa titik. Tenda kaki lima menjual jenis makanan yang cenderung sama, misalnya kelapa muda segar, rujak (wajib dicoba!), dan aneka sajian khas minang. Kawasan ini juga mempunyai arena bermain anak dan ada kereta wisata yang mondar mandir keliling kawasan.

Selama di Padang kami meginap di Mercure Hotel Padang. Peringatan untuk yang ingin menginap di Mercure Hotel Padang saat lebaran: booking jauh-jauh hari. The Karmis, meskipun sudah sebulan sebelumnya booking, ternyata kamar sudah penuh. Alhamdulillah dengan dibantu oleh rekan dari kantor regional Sumatera Barat, akhirnya kami bisa dapat dua kamar dengan pemandangan laut. Terimakasih Mas Adit bantuannya.

Stay di Mercure Hotel sangat nyaman, karena lokasi strategis dekat dengan tepi laut, bangunan hotel masih relatif baru, furniture dengan gaya modern. Selain itu pemandangan dari kamar cukup indah yaitu langsung menghadap laut. Sebenarnya agak ngeri juga sih terlalu tepi laut, karena Padang adalah kota yang rawan gempa dan tsunami.

View dari kamar Mercure Hotel Padang
Sarapan pagi di Mercure Hotel cukup bervariasi dari makanan khas Sumatera Barat, Nasional, maupun internasional. Alhamdulillah ada kesempatan membawa orangtua menginap di sini. Walaupun ada rumah saudara, tapi menginap di hotel semoga memberi suasana dan pengalaman berbeda bagi orangtua.
Sarapan bersama keluarga
Selesai sarapan, saatnya menyebur ke pool. Pool di Mercure Hotel semi infinity, dimana ujungnya terbuka dengan view laut. Peraturan di sini, berenang harus dengan baju renang. Dilarang memakai baju kaus. Seperti yang kita tahu, adalah hal yang lumrah di Indonesia berenang memakai baju kaus dan celana pendek, bukan baju renang. Mungkin pihak hotel ingin menampilkan kesan yang rapi dan berkelas.
Semi Infinity Pool

Berenang


Mr Karmi dan Nasywa
Hari beranjak siang ketika kami check out dan melanjutkan perjalanan balik kembali ke Padang melalui Padang Panjang. Tak lupa sekalian mampir beli oleh-oleh di Christine Hakim, toko oleh-oleh paling terkenal di Padang. Lokasinya tidak jauh dari hotel. Yang wajib dibeli di toko ini ya keripik balado. Enak pake banget. Koleksi penganan lainnya seperti rendang, keripik juga cukup lengkap.

Sampai Jumpa lain kali, Padang.

Kelok 44 dan Road Trip ke Padang

Dari seluruh road trip ke Padang, mungkin yang paling berkesan adalah melewati Kelok 44. Sesuai namanya, jalan dari Puncak Lawang ke bawah menuju Danau Maninjau harus melalui jalan berbelok belok, dengan jumlah belokan (atau kelok) total adalah 44. Nomor Kelok dimulai dengan nomor 1 di bawah dan berakhir dengan 44 di puncak. Karena kami menempuh trip dari Puncak, maka kelokan yang kami lalui akan berawal dari 44 dan berakhir dengan 1. Setiap belokan sudah dilengkapi dengan papan nomor kelok, sehingga kita bisa tahu dan tidak perlu berhitung sendiri :)

Rasanya melewati Kelok 44 itu ya Pusing :). Untung karena udara yang nyaman anak-anak tertidur pulas belum lama setelah kami mulai jalan. Jadi tidak ada adegan rewel dan anak-anak pusing hehe
Tips kalau pusing, cukup alihkan mata dengan memandang pemandangan di kiri kanan jalan. Luar biasa indah. Hamparan sawah, pohon kelapa, dan rumah khas minang. Kita juga bisa melihat Danau Maninjau di bawah, yang semakin lama semakin nampak dekat.






Berkendara di Kelok 44 artinya harus bersedia mengantri. Beberapa kelok cukup tajam dan hanya bisa dilalui  satu kendaran saat bermanuver belok. Karena masih masa lebaran, pak polisi nampak siaga di beberapa titik sepanjang Kelok 44, cukup memberi rasa aman bagi pengendara.


antrian kendaraan di kelok

Finally, kelok terakhir
Perjalanan berakhir di Kelok no 1. pas di tepi Danau Maninjau. Bila berkenan bisa mampir sebentar ke tepi danau, untuk menikmati makan siang, atau sekedar membeli oleh-oleh, salah satu yang khas adalah ikan bilih, ikan kecil yang hidup di danau. Kami tidak mampir ke danau karena mengejar waktu agar bisa sampai kota Padang sebelum sore.

Perjalanan ke Padang kami tempuh melalui rute Lubuk Basung. Memang rute ini agak memutar, namun lebih tidak macet. Kami berusaha tidak melewati rute Bukittinggi-Padang Panjang-Padang yang dipastikan macet. Sepanjang jalan kami disuguhi dengan pemandangan sawah diselingi bukit dan perkampungan penduduk. Kemudian perjalan dilanjutkan dengan menyusuri pantai barat Sumatera Barat. Ada banyak pantai-pantai kecil di sepanjang perjalanan yang bisa disinggahi, baik pantai yang sudah dijadikan objek wisata, maupun yang masih perawan. Menjelang sore kami memasuki kota Padang.

Hotel Nuansa Maninjau

Dalam road trip The Karmis kali ini, kami menginap di Nuansa Maninjau Resort, satu-satunya resort yang representative di Maninjau, yang lokasinya hanya 500 meter dari Puncak Lawang. Sesuai dengan kebiasaan Mrs Karmi, kami sudah reservasi hotel ini jauh hari, apalagi saat peak season seperti Lebaran yang sudah pasti penuh. Ternyata pilihan itu tepat, karena saat kita check in, banyak sekali pengunjung yang datang on spot booking namun room sudah tidak tersedia.

Nuansa Maninjau memiliki 2 tipe akomodasi yaitu kamar dan vila. Kami memilih salah satu vila dengan 2 kamar tidur dan 2 kamar mandi, karena lebih leluasa untuk aktivitas bersama keluarga. Lokasi vila lebih strategis, karena ada di pinggiran playground dan kolam renang. Hotel juga menyediakan papan tenis meja, lumayan juga untuk aktivitas bersama keluarga. Cuaca saat kami check in sekitar jam 2 sangat dingin, bahkan gerimis, sehingga kami memilih berdiam diri di vila sambil menikmati minuman hangat. Menjelang sore, cuaca membaik. Saatnya meluncur dan bermain di kolam renang. Selain kolam renang, hotel juga menyediakan jacuzzi dan sauna yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Nenek langsung bergabung dengan dengan kelompok tamu ibu-ibu dan nenek-nenek yang mendominasi dua wahana ini. Mungkin karena airnya hangat, cocok untuk cuaca yang dingin hehe..
Sisa waktu sore dan malam dihabiskan dengan bersantai bersama keluarga.

Front Lobby


Aktivitas di Kolam Renang

Nasywa, Kevin dan Tante Ija
Sarapan pagi disediakan di dalam bangunan hotel. Makanan disajikan adalah makanan khas Minang, plus roti. Setelah sarapan, jangan lupa untuk naik ke deck hotel untuk mendapatkan view Danau Maninjau. Lokasi deck adalah naik satu tangga di atas restoran. Pagi itu Danau Maninjau berselimut kabut. Sangat indah.

Kabut menyelimuti Danau Maninjau

View dari Deck
Saatnya check out dan melanjutkan perjalanan kami menuju Padang melalui kelok 44.





Dari Puncak Lawang, memandang Danau Maninjau

Setelah agenda silaturami lebaran selesai, The Karmis melanjutkan agenda dengan jalan-jalan keliling  di Sumatera Barat, terutama ke tempat-tempat yang kami belum pernah singgahi sebelumnya. Rute yang kami tempuh adalah Payakumbuh - Bukit Tinggi - Puncak Lawang - Danau Maninjau - Padang lewat kelok 44 - Payakumbuh. Road trip kali ini kami menggunakan mobil Innova agar lebih nyaman utk membawa rombongan 5 dewasa dan 2 anak.
Negeri di Atas Awan: best view Danau Maninjau dari Puncak Lawang


Sinar Matahari Pagi di Puncak Lawang
Aturan road trip kami adalah berangkatlah lebih pagi untuk menghindari kemacetan. Lebih baik agak repot karena harus bangun dan bersiap lebih awal,  daripada terjebak kemacetan. Sebagai informasi, macet karena lebaran di Sumatera Barat lumayan parah juga lho.

Berangkat dari Payakumbuh sekitar jam 7 pagi, kami meluncur menuju Bukittinggi untuk menjemput anggota rombongan lainnya, yaitu Tante Ija (adik Mr Karmi) dan si ndut Kevin. Kami sempatkan mampir ke minimarket untuk membeli perbekalan air minum dan snack ringan. Untuk makan besar sudah pasti lengkap disiapkan oleh Mama. Sedap!

Perjalanan Bukittinggi - Puncak Lawang sekitar 22 km menuju arah barat daya. Alhamdulillah lancar, sehingga hanya sekitar 45 menit kami sudah sampai. Puncak Lawang merupakan salah satu puncak bukit yang mengelilingi Danau Maninjau, salah satu yang paling populer. Jalan menuju ke sana cukup mulus, dengan pemandangan kiri kanan yang hijau dan segar. Saatnya mematikan AC mobil, membuka kaca, dan menikmati segarnya udara perbukitan.

Ternyata kami bukan yang paling pagi sampai ke Puncak Lawang. Parkiran di atas, yang memang kapasitasnya terpatas sudah penuh. Alhasil kami harus parkir di bahu jalan. Nanti akan banyak Abang Parkir yang mengatur parkir, serta yang paling penting, menyediakan baju ganjal roda mobil.




Hijaunya Hutan Pinus 
Kami harus berjalan kaki sekitar 200 meter dari parkir ke tempat piknik puncak lawang. Setelah menggelar tikar piknik dan mengeluarkan perbekalan, saatnya rehat dan menikmati pemandangan yang menakjubkan berupa Danau Maninjau yang terbentang di bawah sana. Langit biru dengan awan putih, ditemani semilir angin, ah indahnya pemandangan.

Selain piknik, di area Puncak Lawang juga tersedia beberapa aktivitas seru buat anak, seperti outbound dan flying fox. Bagi yang ingin lebih ekstrem, boleh dicoba aktivitas Paragliding, seperti yang ada di foto pertama di atas.

The Karmis dengan Latar Danau Maninjau

Main Bubble

Sibuk dengan aktivitas masing-masing

Atuk dan Nenek beserta dua cucu

Bertukar glasses 











#Mudik2015: Sate Dangung Dangung

Barangsiapa tidak suka sate Padang, silakan mencoba sate malin dangung dangun, pasti jadi suka dan bahkan ketagihan

Setidaknya, begitulah yang terjadi pada Mrs Karmi, yang dulunya merasa aneh dengan sate padang, sate kok pake kuah begitu. Kalau tidak salah sate ini juga dijual di depan Pasar Payakumbuh. Namun pada mudik lebaran 2015, The Karmis menjajal sate ini langsung dari asalnya, daerah dangung-dangung.


 Sate Padang adalah sate berbahan daging sapi dan jeroannya (bila suka) disajikan dengan kuah khas dan lontong. Kuah di sate dangung dangung tidak terlalu kental, rempah-rempah khas masakan minang terasa menggoda lidah. Mari makan!



Nasywa khusuk makan sate

#Mudik2015: Lebaran di Payakumbuh Sumatera Barat

Ada yang aneh dengan judul Post kali ini?

Tidak Anda tidak salah dimensi waktu, sekarang memang sudah di penghujung Ramadhan tahun 2016. Adalah rasa malas yang akut, sehingga baru update kejadian setahun yang lalu. 

Padahal,  mudik selalu berkesan untuk The Karmis (dan hampir sebagian besar masyarakat perantau di Indonesia)

Karena mudik, berarti kembali ke asal, bersilaturahmi dengan orang tua dan kerabat, mengenang tempat-tempat yang meninggalkan jejak dalam hidup kita, makan enak! (wajib ini mah), dan merupakan ritual melepaskan diri dari rutinitas kerja di ibukota.

Tahun 2015, jatah The Karmis mudik ke kampung Mr Karmi di Sumatera Barat. Rute mudik kami ke Sumbar selalu diawali dengan pesawat ke Pekanbaru, lanjut jalan darat ke Payakumbuh. Kebetulan adik ipar tinggal di Pekanbaru, jadi kami lebih mudah untuk mendapatkan akomodasi darat (aka pinjem mobil hehe). Dan entah mengapa tiket pesawat ke Pekanbaru lebih murah daripada ke Padang.

Aktifitas pagi di hari raya dimulai dengan sholat Idul Fitri di jalan protokol kota Payakumbuh depan pasar. Bagi The Karmis, aktivitas tentu dimulai dengan foto dan selfie :)

Nenek dan Dua Cucu, Nasywa dan Kevin

Selfie Sebelum Sholat Ied 
The Karmis Seusai Sholat Ied
 Tahun 2015, kami membuat set baju lebaran dengan tema warna salem. Semua design, bahan dan jahit dengan Birunies (Tebet), yang ownernya Runi adalah rekan kuliah kami. Puas sekali dengan hasil jahitan Runi yang rapi.

Selesai sholat, khutbah dan bermaaf-maafan dengan orangtua, saatnya bersilaturahmi dan makan-makan. Alhamdulillah setelah sebulan puasa, semoga kita kembali fitri dan bisa mengecap kemenangan Idul Fitri dan menjadi pribadi muslim yang lebih baik sepanjang satu tahun ke depan

The Karmis dengan Orang Tua Mr Karmis
Bersama Nenek Buyut
Lebaran di Sumatera Barat berarti sajian makanan khas tanah minang seperti gulai, rendang, aneka balado, soto dan lain lain. Yang istimewa lagi ada juga Lamang dan tape ketan. Alhamdulillah nikmat.




Foto Post Wedding

Seiring waktu..
Hanya gambar yang bisa membawa kembali,
ingatan akan betapa indahnya cinta masa muda kita..


Februari kemarin, The Karmis merayakan ulang tahun perkawinan yang ke-7. Subhanallah..Alhamdulillah puji hanya kepada Allah SWT yang telah menentramkan hati kami dalam keluarga kecil yang sakinah dan penuh cinta.

Apa yang istimewa dari anniversary tahun ini?

Bunga? hoho too mainstream
Dinner? Cake? Of course we did, not too special

Kembali menelusuri ke belakang, sebenarnya ada sesuatu yang ingin sekali kami lakukan, yaitu membuat foto Mr dan Mrs Karmi, berdua, yang representative dan layak untuk dipajang.

Sudah nikah 7 tahun belum punya foto berdua? 
well nggak gitu juga sih, karena kita hobi foto, ada banyak foto kita berdua, baik amatir maupun pro di studio. Tapi ingin sesuatu yang lebih wah gitu.

Kan sudah ada foto nikah? ngapain repot foto lagi?
Ehm mungkin justru disinilah awal mulanya. Idealnya foto rangkaian acara nikah sudah cukup sebagai foto bersejarah sebagai pasangan. We do have our wedding photo. Tapi, jujur saja, kondisi saat itu, dengan persiapan yang ada, kami tidak bisa memperoleh foto pernikahan yang ideal. Sedih sudah pasti. Tapi kami menerima kenyataan itu dengan tetap sabar dan suka cita. Sambil menyimpan keinginan suatu hari foto pasangan yang keren ah.

Dan, akhirnya mulai Desember 2014  Mrs Karmi hunting untuk foto post wedding. Hebohnya mungkin sama dengan yang mau persiapan para pasangan muda yang mau prewedding kali ya hehe. Bedanya kami kan post wedding, foto hanya untuk dipajang di rumah (atau di blog ini), jadi tidak terlalu bikin stres seperti yang mau dipajang di depan gedung pernikahan :)
  • Konsep. Karena ini post wed, tidak mungkin lah kita foto dengan membawa balon warna warni, or naik vespa, or naik sepeda di sawah. It must something that is more elegant than that. Akhirnya, setelah googling sana sini, tema yang dipilih adalah Classic Black (formal) dan Country Style (casual). Sebenarnya ada sat lagi yaitu Cafe Date (casual). Tapi pas hari H batal dieksekusi karena waktu
  • Fotografer. Mulai dari poin ini kebawah, kita perlu mengecek dompet ketika memutuskan. Maunya sih difoto sama sekaliber Axioo, dengan lokasi Paris yang romantis, atau Raja Ampat yang indah. Apa daya budget tak sampai. Cukuplah Axioo jadi inspirasi saja. Pilihan kami akhirnya jatuh ke Wira Photography. Setelah email-emailan awal, entah kenapa langsung klik dengan Koh Wira. Padahal nggak pake ketemu dulu sebelumnya karena sibuk. Setelah pilih paket dan nego harga akhirnya deal untuk foto sama Koh Wira.
  • Make Up. Karena nggak mau ribet, make up langsung dengan rekanan Koh Wira. Main percaya aja deh. 
  • Lokasi. Sejak awal kami emang maunya konsep indoor. Eh tapi, ternyata harga sewa cafe untuk foto di Jakarta luar biasa mahal. Biasanya sewa dihitung untuk berapa jam, dan belum termasuk makan minum untuk kita dan kru foto. Duh bangkrut deh. Di antara list itu, cuma ada satu yang masuk akal yaitu The Nannys Alam Sutera, dengan tema barn. Paket foto dibandrol hanya berupa minimum order (Rp. 800k sebelum pajak). Cukup masuk akal, karena toh kita tetap harus makan, dan dengan hitungan bersama makan minum dengan seluruh kru rasanya akan tercapai minimum order tersebut. The Nannys juga cukup gampang dihubungi dan sanget kooperatif, cukup telp dan booking saja. tidak perlu DP dan lain - lain. Selain itu, ternyata meskipun kenyataannya pas pemotretan kita molor sampai sore, melebihi jatah foto 3 jam, mereka tidak marah, dan tetap ramah melayani. Terimakasih The Nannys
  • Pakaian. Pemilihan pakaian harus disesuaikan dengan konsep yang diinginkan. Cukup pusing juga ketika menentukan dan mulai menyiapkan pakaian. Terutama karena ternyata sewa ball gown itu tidak murah. Untung pencarian berlabuh ke Contessa Bridal di PIK. Duh jauhnya ya harus ke PIK. Contessa ini koleksi bajunya tidak banyak, tapi semuanya simple glamour sesuai dengan yang dicari oleh Mrs Karmi. Cukup deg-degan juga pas fitting, untung ternyata pas banget, tidak perlu dirombak sedikitpun (menari-nari girang). Karena gaunnya model masa kini yang backless, maka Mrs Karmi perlu pake inner dengan warna senada. Sewa gaun biasanya hanya sekitar 3 hari saja harus dikembalikan. Contessa meminta deposit untuk sewa gaun yang bisa diambil setelah gaun dikembalikan. Sedangkan untuk kostum kedua, casual, kami beli black leather jacket di ZARA, yang kebetulan sedang diskon (semakin menari-nari). Untuk jeans, boots, dan kaos merupakan koleksi sendiri. 
Hari H pemotretan, 25 Januari 2016

Lokasi Nanny's Pavilion Alam Sutera ini mudah sekali ditemukan, sehingga ternyata kami kepagian dari jadwal seharusnya jam 10 pagi. Alhamdulillah ternyata cafe nya sudah buka sehingga kami bisa order sarapan dulu sambil menunggu rombongan koh wira datang. Pas sekali sedang ada promo buy one get one free untuk breakfast package, sehingga cukup untuk mengisi 3 perut The Karmis yang kelaparan. Sebenernya, untuk urusan makanan The Nannys ini tidaknya istimewa, bisa dibilang biasa aja. Perlu digaris bawahi bahwa hanya karena lokasi lah kami bela-belain jauh-jauh dari Depok ke sini hehe.
Sarapan Pagi dulu..
Sekitar 9.30 koh wira dan rombongan datang. Alhamdulillah meskipun sebelumnya komunikasi hanya melalui email, WA dan telepon, tapi tenyata langsung nyambung ngobrolnya. Barang-barang langsung di loading ke lantai dua, sekaligus untuk make up. Oh ya, karena masih pagi, meskipun cafe buka tapi relatif sepi jadi kita bisa bebas menggunakan baik lantai dasar maupun lantai lantai 1. Setelah make up dan berganti kostum satu, yang ternyata makan waktu lebih dari satu jam, sekitar jam 11 mulailah foto untuk konsep pertama classic black. Gaunnya cantik sekali. Make up dan Jilbab do nya juga keren. Suka deh.

Berikut beberapa hasil foto Classic Black. Ternyata jadi model susah ya, ckckcck, harus luwes bergaya. Kita cenderung kaku pada awalnya walaupun kemudian menjadi lebih baik.

Foto yang diedit dan cetak kanvas
 Koh wira mantap dalam hal mengambil gambar. Tidak terlalu banyak tapi bagus semua. Bahkan raw files nya menurutku sudah oke. Antara raw foto dan kemudian 16 files yang diedit hasilnya  tidak terlalu berbeda.
 Puas di lantai 1, kami mulai mengeksplorasi lantai dasar dan beranda depan.
 Setelah dirasa cukup dengan gaun 1, kami berganti makeup dan baju ke kostum yang kedua. Ternyata ya, ganti make up dan kostum yang ku kira simple tetap makan waktu hampir satu jam. Menurut Mas Egi, konsep make up untuk classic glamour dan casual beda, ketebalan make up, lipstick dan terutama riasan mata. Hohoho..baiklah..

Semua foto casual diambil di luar cafe. Cuaca panas dan awan memmbuat kita harus take beberapa kali. Nasywa sudah mulai bosan dan mati gaya, plus bete menunggu Ayah dan bundanya bergaya hahaha. Alhamdulillah Mas Egi dan kru mau mengasuh Nasywa dengan baik. What a kind person.

Seiring semakin banyak take, kita jadi semakin luwes dan semakin nggak tau malu (ups). Kondisi weekend di jam makan siang yang cukup ramai baik di Cafe maupun sekitarnya. Kebetulan di belakang The Nannys ada tempat perbelanjaan Loka Alam Sutera, yang kebetulan berdinding putih dengan akses box warni warni. Koh Wira memanfaatkan dinding tersebut sebagai background beberapa foto. Secara umum hasil foto untuk konsep kedua lebih fresh dan sexy. Love it all.






Menjelang sore, kegiatan foto berakhir. Lelah tapi senang. 
Terima kasih Koh Wira, Mas Egi and team, Contessa Bridal yang sangat kooperatif dan membantu.

Menyiapkan semua ini sangat melelahkan (apalagi dilakukan sambil mempersiapkan rencana study ke Australia), dan menguras kantong. Tapi percayalah, hasilnya sebanding.

Foto-foto ini sudah terpasang manis di rumah kami. Semoga kenangan cinta masa muda (ya lah masih kepala tiga awal) akan tetap manis dikenang seiring berjalannya waktu.